PROTOKOL24 - Rakyat Surabaya sangat marah setelah tentara Inggris menyebarkan ulimatum-ultimatum melalui pamflet yang disebar dari udara. Melalui selebaran itu, Sekutu menuntut agar semua senjata yang dipegang Rakyat Surabaya diserahkan kepada tentara Sekutu. Mereka juga menuntut Indonesia menandatangani pengakuan menyerah kepada Sekutu.
Rakyat pun bereaksi dengan bersiaga di sudut-sudut Kota Surabaya. Pemuda dan kelompok bersenjata berkumpul membawa senjata dan pistol otomatis.
Baca Juga: Ini Makna Logo dan Tema Hari Pahlawan 2021
Pemuda dan kelompok bersenjata yang bekumpul di Surabaya memilih Sungkono sebagai Komandan Pertahanan Kota Surabaya, dan mengangkat Surachman sebagai Komandan Pertempuran.
Dari sini, muncul semboyan "Merdeka atau Mati". Termasuk melahirkan Sumpah Pejuang Surabaya, yaitu:
Tetap Merdeka!
Kedaulatan Negara dan Bangsa Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 akan kami pertahankan dengan sungguh-sungguh, penuh tanggungjawab bersama, bersatu, ikhlas berkorban dengan tekad: Merdeka atau Mati! Sekali Merdeka tetap Merdeka!.
Surabaya, 9 November 1945, jam 18:46.
Baca Juga: Presiden Jokowi Dijadwalkan Membuka Monumen Perjuangan Pandemi Covid-19 Jabar
Semboyan itu menggema di markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang terletak di Jalan Pregonalan, Surabaya. Semboyan ini menjadi semangat dan terus digaungkan sehari sebelum insiden di Hotel Yamato terjadi. Insiden dimana para pejuang merobek bendera Belanda dan hanya menyisakan merah-putih saja.***
Artikel Terkait
Ini Makna Logo dan Tema Hari Pahlawan 2021
Presiden Jokowi Dijadwalkan Membuka Monumen Perjuangan Pandemi Covid-19 Jabar