Kuningan Diserang Hama Babi, Petani Resah Padi dan Palawija Rusak

photo author
Tim Protokol24 01, Protokol24
- Senin, 17 Januari 2022 | 08:03 WIB
Ilustrasi petani menjaga tanaman padi dari serangan hama babi. (Foto: Mul/JabarNews).
Ilustrasi petani menjaga tanaman padi dari serangan hama babi. (Foto: Mul/JabarNews).



KUNINGAN, PROTOKOL24- Serangan hama babi mulai menyerang tanaman padi dan palawija di Kabupaten Kuningan. Selain membuat petani mengalami kerugian, serangan hama babi juga membuat penati enggan kembali bercocok tanam.

Serangan hama babi salah satunya terjadi di Desa Kutakembaran, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan. Dalam beberapa hari terakhir, sekitar 10 ekor babi menyerang padi dan palawija yang ditanam petani setempat.

Mulanya petani tidak terlalu resah dengan adanya serangan hama babi, namun belakangan jumlahnya terus meningkat. Bahkan serangan hama babi telah merusak tanaman padi berusia 2 bulan, termasuk merusak tanaman palawija, seperti ketela pohon dan kacang tanah.

Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19 Terulang, Indonesia Terima Obat Antivirus Buatan Pfizer

Diungkapkan Kepala Desa Kutakembaran, Anton Wiradijaya serangan hama babi nyaris setiap hari terjadi. Dan akhir-akhir ini jumlahnya meningkat hingga mencapai 10 ekor bergerombol. Hal ini tentu sangat meresahkan petani.

“Beberapa hari ini banyak petani mengadu kepada saya, mereka mengaku resah terkait meningkatnya serangan babi. Mungkin minggu ini rencananya kami akan koordinasi dengan pihak instansi terkait untuk penanganan hama babi,” ujar Anton seperti dikutip Protokol24 dari Pikiran Rakyat berjudul Petani di Kuningan Resah, Serangan Hama Babi Meningkat.

Baca Juga: Cara Mengecek Tiket dan Jadwal Vaksinasi Booster Ketiga di PeduliLindungi 

Menurut dia, hingga kini tanaman yang rusak akibat serangan hama babi sudah mencapai 100 bata. Lokasinya di Blok Sadakeling, Legok Palasa, Sawahkulur, dan Blok Limuspiit. Babi-babi itu bergerombol merusak bagian akar dan batang padi. Begitu pula bagian akar tanaman palawija.

“Petani tidak bisa berbuat apa-apa, lantaran terbatas pengetahuan, dan tidak tersedianya alat untuk memburu babi. Oleh karena itu, kami akan meminta bantuan instansi terkait dalam menangani persoalan yang sedang dihadapi para petani,” ujar Anton.

Baca Juga: Video Syur 61 Detik Mirip Nagita Slavina Disebut Pakar Telematika Bukan Rekayasa, Ini Tanggapan Raffi Ahmad 

Menurut ia, warga yang menggarap lahan pertanian di daerahnya umumnya bukan sebagai petani tulen. Selain bercocok tanam, diantara mereka banyak yang merantau di luar daerah, seperti berjualan di Jakarta. Dari jumlah sekitar 800 jiwa (1800 KK) warga Desa Kutakembaran, petaninya hanya sekitar 100 orang.

“Banyak lahan yang ditanami yang ditinggalkan pemiliknya, lantaran merantau. Biasanya pulang pada waktu-waktu tertentu,” ujarnya.*** (Kontributor Pikiran Rakyat/Ajun Mahrudin)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Cipyadi

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X