Semangatnya berjuang melalui tulisan-tulisan yang terbit di koran perempuan Poetri Hindia akan tetap dikenang sepanjang masa.
Suara lantang Roehana Koeddoes yang menganjurkan agar perempuan tidak menikah sebelum usia 18 tahun juga masih terus terdengar disuarakan hingga saat ini. Suara yang sama lantangnya ketika memprotes budaya patriarki, seperti nikah paksa di bawah umur, poligami, dan praktik pengekangan terhadap perempuan lainnya.
Baca Juga: Pemerintah Tak akan Berlakukan Putar Balik Kendaraan Pada Masa Natal dan Tahun Baru 2022
Kiprah Ruhana dalam dunia jurnalistik
Selain mengasuh Soenting Melajoe selama sembilan tahun hingga terakhir pada tahun 1921, Roehana Koeddoes memutuskan untuk mengelola surat kabar Perempoean Bergerak di Medan.
Roehana Koeddoes juga menjadi koresponden tetap pada surat kabar Dagblad Radio di Padang, serta menulis untuk surat kabar Tjahaja Soematra.
Sederat kiprah dalam dunia pers yang ditekuni Roehana Koeddoes, merupakan jawaban bahwa namanya layak menyandang predikat sebagai wartawati pertama Indonesia.
Dan pada hari kelahirannya, PROTOKOL24 merangkum perjalanan hidupnya yang diolah dari berbagai sumber.(*)