Dalam perhelatan debat calon presiden Indonesia 2024 tersebut, pertanyaan yang mengacu pada aspek keamanan dan pertahanan digital juga menjadi topik yang digaungkan bagi para paslon untuk beradu gagasan.
Pertanyaan tersebut mengacu pada kebijakan pengembangan teknologi sebagai bentuk membangun keamanan siber dan kedaulatan data di ruang siber.
National Cyber Security Index pada 2023 yang lalu mencatat keamanan siber Indonesia berada di urutan ke-49 dari 176 negara dengan tingkat keamanan siber 63,64.
Angka ini jauh di bawah skor negara tetangga seperti Malaysia, dengan skor 79,22 diikuti oleh Singapura dengan skor 71,43. Faktor human error, kelemahan sistem dan peretasan disebut sebagai faktor berpengaruh dalam kejahatan siber (Hapsari, 2023).
Sebagai ahli dalam bidang keamanan dan pertahanan, Dr. Ian turut menanggapi hasil dari debat tersebut.
Menurut Dr. Ian, ketiga calon presiden Indonesia 2024 tersebut sepakat untuk meningkatkan keamanan dan pertahanan nasional melalui berbagai instrumen.
Berbicara keamanan dan pertahanan, lanjutnya, tidak hanya terjadi di darat, laut dan udara, namun juga terjadi di dunia maya dan bersifat global, melintasi batas negara.
Sepanjang tahun 2023, terjadi 40,6% kejahatan siber di Indonesia. Mengamati hasil debat kemarin, ketiga capres sepakat meningkatkan keamanan dan pertahanan Indonesia.
"Selain melalui pengadaan alat utama sistem senjata, peningkatan keamanan teknologi siber, serta yang tidak kalah penting yaitu peningkatan kapabilitas SDM,” tutupnya.(*)
Artikel Terkait
Demi Netralitas, Ini Larangan Bagi ASN Selama Tahapan Pemilu 2024
Ketua PWI Jabar Ajak Wartawan Berperan Cegah Hoax Untuk Wujudkan Pemilu Damai 2024