Protokol24 – Meletusnya Gunung Api bawah laut di Tonga, Selandia Baru mengakibatkan dampak yang hebat bagi komunikasi. Tak heran masyarakat di sana saat ini tengah menghadapi kiamat ‘komunikasi’.
Ada sekitar 105.000 penduduk terisolir karena jaringan internet maupun komunikasi lumpuh. Para penyelamat pun tidak bisa memastikan kondisi keamanan warga di sana. Penyelamat hanya bisa memantau lewat citra satelit.
Baca Juga: Mengenal Ibu Kasur, Tokoh yang Wajahnya Jadi Ikon Google Doodle Hari Ini
“Gambar erupsi gunung berapi di dekat Tonga sangat memptihatinkan,” kata Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern lewat akun Instagramnya.
Namun demikian, pemerintah Selandia Baru sudah menyiapkan langkah penyelamatan dan memperkirakan kebutuhan yang dibutuhkan oleh warga di Tonga.
Baca Juga: Daftar Mobil Keluarga Murah Rp 50 Jutaan, Bisa Muat Banyak Penumpang
Sejauh ini, belum ada laporan yang menyebutkan adanya korban luka atau tewas akibat meletusnya gunung api bawah laut tersebut.
Kemungkinan hal itu bisa saja terjadi karena hingga kini komunikasi masih terputus. Masyarakat pun saat ini hanya bisa berdoa bersama meminta keselamatan warga di Tonga.
Baca Juga: Kini Aplikasi PeduliLindungi Bisa Offline Check In Tanpa Data Seluler
Sebelumnya, pada Sabtu 15 Januari wakltu setempat, Gunung Api bawah laut di tonga meletus sangat keras. Ledakan bahkan terdengar hingga ke Giji dan Selandia Baru yang jaraknya beribu kilometer.
Lewat pencitraan satelit, Gunung tersebut memuntahkan erupsi gumpalan asap hingga 12 mil ke atas permukaan laut. Akibatnya langit di sana menjadi gelap tertutup abu.
Baca Juga: BPBD Kabupaten Pandeglang Melaporkan Kerusakan Akibat Gempa Bumi
Kerasnya ledakan membuat banyak peringatan tsunami bertebaran terutama di wilayah Australia, Fiji dan Selandia Baru.***
Artikel Terkait
Paska Erupsi, Tim Badan Geologi Lakukan Pembaharuan Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Semeru
Begini Nasib Hewan Usai Semeru Meletus
Minggu Sore Banjir Lahar Dingin Gunung Semeru Masih Terjadi, Jembatan Darurat Putus Tersapu