PROTOKOL24- Menyambut Tahun Baru 2022, apa sajakah yang sudah kita persiapkan?. Sudahkan kita memiliki Resolusi 2022 untuk tahun baru nanti?.
Menyusun Resolusi 2022 untuk tahun baru nanti bukan sekedar tradisi. Tidak saja sebagai motivasi untuk menjalani kehidupan dalam satu tahun mendatang, tetapi juga sebagai evaluasi tahun sebelumnya agar menjadikan diri menjadi lebih baik di masa yang akan datang.
Lalu, seberapa penting Resolusi 2022 itu?. Berikut ini PROTOKOL24 merangkumnya untuk anda seperti dikutip dari Ayo Indonesia berjudul Perlukah Membuat Resolusi Tahun Baru ? Simak Penjelasannya
Baca Juga: Kasus Omicron di Indonesia Terus Bertambah Menjadi 46, Virus Itu Berasal dari Negara-Negara Berikut
Sebuah riset yang dilakukan di Amerika menunjukkan, membuat resolusi merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh 1 dari 2 orang dewasa. Namun hanya 7% atau kurang dari 10% yang mematuhinya. Itu pun cuma berlangsung beberapa bulan. Jauh lebih sedikit lagi orang yang benar-benar menjalankan apa yang ditekadinya itu.
Mark Griffiths, direktur unit riset gaming internasional sekaligus profesor bidang kecanduan perilaku di Nottingham Trent University, tahu betul betapa mudahnya orang jatuh ke dalam kebiasaan buruk.
Berbanding terbalik dengan jatuhnya, lepas dari kebiasaan buruk malah sangat susah. Kalaupun berhasil melepaskan diri dari kebiasaan buruk, potensi untuk kambuh dan kembali ke kebiasaan lama yang buruk tetap besar. Lebih-lebih kalau kebiasaan buruknya itu sudah menahun.
Sebagai contoh kebiasaan merokok. Banyak yang gagal untuk berhenti dari kebiasaan merokok. Sementara tak sedikit pula yang kembali merokok setelah sempat berhenti merokok beberapa bulan atau tahun.
Baca Juga: Hendak Selamatkan Hewan Peliharaan, Ibu dan Anak Terseret Arus Sungai Ditemukan Tewas
Jangan Buat Resolusi yang Tidak Realistis dan Terlalu Banyak
Walaupun lebih sering diingkari, membuat resolusi tetap saja jadi semacam ritual tahunan, meski kadang cuma niat dalam hati. Biasanya tentang hal-hal umum. Misalkan saja tahun depan akan bangun pagi, membantu orangtua, berhenti merokok, lebih peduli pada teman, menargetkan pacar baru atau menikah, lulus kuliah, olah raga rutin, diet, menabung, dan sebagainya.
Sehari dua hari atau seminggu dua minggu sih masih dipatuhi. Namun beberapa bulan kemudian dia pura-pura amnesia dengan berbagai alasan dan kembali pada kebiasaan lamanya.
Ada alasannya, di antaranya, resolusinya memang tidak realistis atau terlalu banyak. Oleh karena itu, tentukan resolusi yang realistis dan konkret. Ketimbang beresolusi “akan melakukan olah raga rutin”, jauh lebih realistis menetapkan “akan berenang seminggu sekali” misalnya.
Bisa juga mengganti resolusi tidak jelas “membantu orangtua” dengan “mencuci baju sendiri”.
Baca Juga: Daftar Artis yang Meninggal Sepanjang 2021, Banyak yang Terserang Covid-19 saat Pandemi
Artikel Terkait
Nataru kali ini, ASTRA Tol Cipali mulai mengoperasikan Jalan Tol Akses BIJB Kertajati
Tak Ada Penyekatan, Nataru Wajib Terapkan Aplikasi PeduliLindungi dan Pertegas Sanksi
Cegah Omicron Saat Nataru, PeduliLindungi Dipertegas Pengamanan Dipertebal
Dianjurkan Tetap di Rumah, Namun Bila Terpaksa Bepergian Saat Nataru Ini Syaratnya
BMKG Minta Semua Update Informasi Cuaca Untuk Tingkatkan Kewaspadaan Selama Nataru