kesehatan

Pertamina EP Gandeng Puskesmas Temiyang Berdayakan Kader Posyandu Remaja dan Buruh Migran Indramayu

Sabtu, 15 Juni 2024 | 06:12 WIB
Pertamina EP (PEP) Jatibarang Field bekerjasama dengan UPTD Puskesmas Temiyang Kecamatan Kroya, Indramayu menggelar edukasi kesehatan remaja. (Ist/Protokol24)

 

Indramayu,Protokol24.- Pertamina EP (PEP) Jatibarang Field bekerjasama dengan UPTD Puskesmas Temiyang Kecamatan Kroya, Indramayu menggelar edukasi kesehatan remaja bertema ”Pemberdayaan Kader Posyandu Remaja dan Buruh Migran”.

Melalui kegiatan tersebut, Pertamina EP mensosialisasikan berbagai infromasi terkait pentingnya aspek kesehatan.

Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga merupakan elemen kunci dalam mencapai kehidupan yang seimbang dan produktif, terutama untuk kalangan remaja.

Sejumlah narasumber dihadirkan menjadi pembicara dalam edukasi tersebut, diantaranya tim Rumah Sakit Pertamina Cirebon (RSPC), hingga ahli gizi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Indramayu.

Baca Juga: Sempat Tak Laku Dilelang, KPK Hibahkan Barang Rampasan Negara Senilai 10,2 Miliar Kepada Pemkab Indramayu 

Communication, Relations & CID Zona 7, Andhar Lutfi menjelaskan edukasi ini penting dilakukan mengingat program kesehatan khususnya stunting menjadi program utama dari Pemerintah Kabupaten Indramayu.

“Kami sebagai perusahaan migas yang terletak di daerah bersinergi dengan Pemda untuk membantu menyelesaikan permasalahan stunting. Apa yang didapatkan pada hari ini bisa ditularkan kepada sekitarnya”, jelas Andhar Lutfi saat dikonfirmasi pada Kamis (13/06/2024).

Pada momen tersebut, lanjutnya, Pertamina EP Jatibarang Field menyerahkan bantuan peralatan kesehatan kepada pihak Puskesmas Kroya sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat sekitar wilayah operasional.

Baca Juga: Perumdam Tirta Darma Ayu Dukung Penuh Program Unggulan Bupati, Maksimalkan Layanan Cepat Tanggap Aduan Konsumen DEBAS

Dalam pemaparannya, dr. Nunik selaku Spesialis Kedokteran Jiwa dari RS Pertamina Cirebon mengungkapkan stress merupakan respon tubuh terhadap perubahan hidup.

“Jika masyarakat aware terhadap kesehatan mental dan bisa mendeteksinya sedini mungkin, stress dapat disikapi secara eustress (positif)”, ungkapnya.

Menurutnya, gangguan mental emosional adalah masalah kesehatan jiwa yang paling banyak di Indonesia, yakni sekitar 19 juta jiwa.

Sebanyak 50% gangguan jiwa berawal pada usia 14 tahun namun tidak terdeteksi.

Ia pun merinci bentuk-bentuk gangguan mental itu, antara lain perasaan cemas, depresi, penyalahgunaan napza, dan bipolar.

Halaman:

Tags

Terkini