JAKARTA, PROTOKOL24- NeoCov dilaporkan oleh ilmuwan asal China sebagai varian terbaru Covid-19 yang disebut lebih ganas.
Menyikapi adanya laporan tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa perlu penelitian lebih lanjut terkait NeoCov yang disebut ilmuwan China sebagai virus baru itu.
Sementara itu, pakar ilmu kesehatan dari Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan pada laporan artikel tersebut, potensi dari mutasi NeoCov berisiko menimbulkan masalah pada manusia.
"NeoCov ini baru berdasar analisa di laporan artikel. Sejauh ini belum menulari manusia," jelas Prof Tjandra Yoga Aditama.
Baca Juga: Dokter di Medan Ditetapkan Sebagai Tersangkai Usai Suntikkan Vaksin Kosong Untuk Siswa
Ia menambahkan NeoCov belum bermutasi dan belum tentu juga akan bermutasi lagi atau tidak.
"Bisa saja tetap seperti sekarang dan tidak bermutasi lagi," imbuhnya.
Menurutnya ada terori lain yang menyebut NeoCov merupakan virus corona penyebab MERS CoV dan juga penyebab Covid-19.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu menuturkan sampai saat ini NeoCov tidak bermutasi ke arah menyerang manusia.
Namun ia mengingatkan bahwa potensi itu tetap ada.
Menghadapi situasi seperti sekarang ini, Prof Tjandra Yoga Aditama mengingatkan agar dilakukan pemantauan perkembangan NeoCov.
Ini perlu dilakukan oleh para ahli melalui perkembangan bukti ilmiah yang valid terkait NeoCov.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak cepat menarik kesimpulan yang mungkin saja bisa keliru.
Setiap informasi yang diperoleh harus dikonfirmasi pada sumber yang tepat, atau mengambil berita dari sumber yang dapat dipercaya.